Chat with us, powered by LiveChat
Selamat datang di KINGKONGBET.COM, Kingkongbet kini menyediakan permainan poker IDN dan Pokerking88, segera bermain bersama kami, Situs Judi Online Terpercaya

Menjadi Negara Tuan Rumah Piala Dunia, Apa Sih Pro dan Kontranya?

Menjadi Negara Tuan Rumah Piala Dunia, Apa Sih Pro dan Kontranya

Satu hal paling menarik untuk dibahas yakni mengenai tuan rumah yang menjadi tempat diselenggarakannya Piala Dunia. hal ini dikarenakan terdapat pro dan juga kontra sepanjang sejarah mulai dari dihelatnya Piala Dunia tahun 1930 silam. Padahal pada waktu pertama kali diadakan pertandingan sepak bola tingkat internasional tersebut, Pihak Federasi FIFA sendiri memilih Uruguay sebagai tuan rumah karena berbagai macam alasan. Adapun diantaranya karena pada waktu itu Uruguay tengah merayakan keseratus tahun kemerdekaan serta memenangkan dua kali juara dunia. Kemudian FIFA menunjukknya sebagai panitia utama yang mengurus tempat pertandingan selama satu bulan penuh. Setelah itu diadakanlah sistem bidding atau pengambilan suara oleh seluruh negara anggota FIFA untuk menentukan para kandidat tuan rumah.

Banyaknya Pro Kontra Mengenai Tuan Rumah

Nyaris setiap negara anggota menginginkan posisi sebagai tuan rumah dalam Piala Dunia karena dianggap mampu memberikan keuntungan. Akan tetapi hal tersebut disanggah oleh berbagai macam pihak dimana menganggap posisi tersebut malah menjadikan negara bangkrut dan miskin. Sementara itu pada kenyataannya untuk periode Piala Dunia 2018 kemarin telah ada enam kandidat yang maju ke pemilihan tuan rumah diantaranya Rusia, Inggris, Belanda, Spanyol dan beberapa lainnya. Kemudian Rusia menang pada voting tahap pertama dengan total suara 6 buah. Namun itu masih belum cukup karena dianggap hanya memenuhi 50{19d73de9faac0ef84e2836fd2f103fb3c6fc70137f8fea141538478e7be42173} prosesnya saja dan harus diadakan bidding lagi untuk kedua kalinya.

Setelah diumumkan menang pada tanggal 2 Desembar 2010 maka pihak pemerintahan Rusia mempersiapkan berbagai macam hal untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2018. Dana yang dihabiskan sekitar 11,8 milyar dollar AS atau bisa disetarakan dengan uang ratusan triliun rupiah. Bayangkan saja jika Indonesia melakukan hal yang sama maka bisa habis aset simpanan negara dan rakyat menjadi miskin mendadak. Rusia sendiri mengalokasikan anggaran tersebut ke berbagai macam sektor, terutama infrastrutur dan fasilitas tiap kota. Terdapat 13 kota besar sebagai tempat Piaal Dunia sehingga harus benar-benar diperhatikan segala sesuatunya mulai dari pembangunan stadion berstandar internasional, hotel dan penginapan mewah, sarana transportasi, bandara, dan lain sebagainya. Selain Rusia, Brazil serta Afrika Selatan yang periode kemarin sempat juga menjadi tuan rumah juga bernasib sama meskipun dengan jumlah dana lebih kecil. Paling para terjadi di Afrika Selatan dimana pihak FIFA dan sponsor menuntut adanya perbaikan dan penambahan fasilitas termasuk gedung stadion supaya dibuat lebih megah daripada sebelumnya. Hal ini membuat negara tersebut harus mengubah ulang anggaran dana dan membuatnya menjadi lebih besar sampai tiga kali lipat.

Inilah yang kemudian menimbulkan pro serta kontra posisi tuan rumah Piala Dunia. Meskipun sudah jelas bakal membutuhkan modal terlampau besar tetapi beberapa negara masih mempunyai ambisi besar. Memang ada perimbangan tertentu dimana akan menjadi sebuah peluang besar jika suatu negara berhasil mendapatkan prestasi tersebut. Disamping itu pihak kontra menganggapnya menimbulkan kerugian sampai menghabiskan anggaran negara.

Keuntungan Tuan Rumah Piala Dunia

Berikut ini keuntungan yang didapatkan para negara yang meyelenggarakan Piala Dunia:

  1. Peluang untuk menjadi negara katalis pembangunan dimana terdapat berbagai macam fasilitas baru, seperti stadion, sarana transportasi, bandara, penginapan, tempat wisata dan lain sebagainya.
  2. Popularitas semakin meningkat sehingga negara tersebut dapat lebih dikenal oleh dunia. Ini dapat membantu dalam pembangunan tiap sektor kehidupan, salah satunya bagian pariwisata yang semakin baik.
  3. Tim nasional sepak bolanya lebih diakui di mata dunia karena mampu berlaga sampai tingkat Piala Dunia. Pihak pemerintah juga sudah pasti akan menyediakan fasilitas dan kebutuhan tim andalan mereka seperti pelatih profesional, tempat latihan dan sebagainya.
  4. Perekonomiannya juga ikut berkembang pesat karena akan ada banyak wisatawan asing mendatangi tempat tersebut. Tidak mungkin mereka hanya menonton pertandingan kemudian pulang tetapi sudah pasti akan menghabiskan beberapa hari di negara tersebut. Selama itu, turis internasional membutuhkan berbagai keperluan, seperti penginapan, bahan makanan, merchandise, dan lain sebagainya. Tidaklah heran jika ada begitu banyak penduduk asli berjualan di sepanjang stadion atau pusat oleh-oleh untuk menawarkan barang khas negara tuan rumah.

Kerugian Bagi Negara Tuan Rumah

Setelah mengetahui keuntungannya maka mari kita lihat apa sajakah kerugian jika menggelar Piala Dunia.

  1. Meskipun bisa dijadikan sebagai prestise atau kebangaan tersendiri, ternyata tuan rumah Piala Dunia harus mengeluarkan budget besar. Bukan hanya dari aset negara saja melainkan anggaran berasal dari uang publik atau warga negaranya sendiri.
  2. Rawan terjadinya skandal suap dan juga korupsi yang nantinya bakal membawa citra buruk terhadap negara tersebut. Misalnya saja seperti yang kejadian barusan dimana Rusia dan Qatar diduga melakukan suap terhadap beberapa anggota Komita FIFA supaya bisa berhasil menjadi tuan rumah. Pada saat itu Rusia menjadi tuan rumah di tahun 2018 sedangkan Qatar tahun 2022 mendatang.
  3. Harus berani menanggung malu apabila sampai kalah dalam pertandingan. Sebagai tuan rumah tidak selalu menyandang popularitas dan kebanggan saja melainkan resiko. Jika sampai tim nasionalnya mengalami kekalahan bahkan ketika di babak awal maka negara tersebut bisa dikritik bahkan dicaci maki oleh para penggemar serta masyarakat luas. Ini bukanlah ketakutan semata melainkan sudah dibuktikan melalui kekalahan Brazil di Piala Dunia 2014 silam. Brazil saat itu menjadi tuan rumah dan malah dipermalukan dengan perolehan skor 1-7. Contoh lainnya terjadi di Piala Dunia 1970 dan 1986 dimana Meksiko menjadi tuan rumah sebanyak dua kali namun malah kalah serta gagal masuk semifinal.

Itulah pembahasan mengenai pro sekaligus kontra ketika suatu negara tertentu menjadi tuan rumah dalam ajang Piala Dunia. Sebagian dari anggota FIFA sudah ada yang benar-benar sadar akan kerugian tersebut namun beberapa diantaranya tetap berusaha maju sebagai kandidat. Mengingat begitu besar peluang memajukan pemerintahan, negara dan kualitas rakyat melalui turnamen bergengsi tersebut. Bahkan Indonesia sendiri juga sedang sibuk merencanakan menjadi tuan rumah di Piala Dunia periode mendatang. Sempat dikabarkan jika Thailand bakal memberikan bantuan dengan cara bergabung menjadi tuan rumah di Piala Dunia tahun 2034. Dukungan lain muncul dari pihak AFF serta perwakilan FIFA sendiri yang menginginkan Asia Tenggara mencetak sejarah dengan menyelenggarakan turnamen tersebut.

Namun begitu, tentu Indonesia harus menyiapkan berbagai macam hal mulai dari modal, kekuatan mental dan pembangunan dalam negeri. Mengingat syarat yang diajukan sponsor dan Asosiasi FIFA tidaklah mudah, salah satunya mengharuskan ada 20 stadion internasional untuk para pesertanya. Masih ada waktu belasan tahun lagi bagi kedua negara mempersiapkan segala hal dengan matang agar tidak kalah dari tuan rumah sebelumnya seperti negara-negara bagian Eropa. Siapa sangak jika nantinya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 bakal menjadikan Indonesia lebih populer, diakui dunia dan mendapatkan banyak kesempatan dalam berbagai macam bidang.